Vidio Marawis Al-Baitul Hasanah Pimpinan Al Ustad Lili Blok Cicadas Rt 12/17 Kel. Dangdeur Kec/Kab Subang 41212, Jawa Barat Tlp. 089639952834 (Inal Doen)
Senin, 08 Mei 2017
Ruwatan Bumi, yaitu ritual
manifestasi rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala yang telah
diperoleh dari hasil bumi. Ruwatan berasal dari kata Ruwat atau ngarawat
(bahasa Sunda) yang artinya memelihara atau mengumpulkan. Makna dari
mengumpulkan adalah mengajak masyarakat seluruh kampung berikut hasil buminya
untuk dikumpulkan, baik yang masih mentah maupun yang sudah jadi atau dalam
taraf pengolahan. Tujuannya selain rasa syukur tadi sekaligus sebagai tindakan
tolak bala dan penghormatan terhadap para leluhurnya. Pelaksanaan ruwatan bumi
biasanya berlangsung di tanah lapang. Meski masing-masing daerah memiliki ciri
sendiri-sendiri, namun pada intinya mereka melakukan ritual keagamaan yang
kental dengan peristiwa budaya.
Di Blok Cicadas, Kelurahan Dangdeur Kecamatan
Subang, ruwatan bumi masih dipelihara dan dijalankan dengan sangat khitmat oleh
masyarakat setempat susai yang diwariskan orang-orang tua dahulu. Ruwatan
bumi di daerah ini memang sangat unik dan menarik karena kekuatan tradisi di
masa lalu yang terus terpelihara dengan baik. Ditengah modernisasi dan arus
globalisasi yang sulit untuk dibendung, ruwatan bumi tentu saja menghadapi ancaman
menuju kepunahan. Di beberapa tempat sudah mulai hilang. Padahal sekitar 20
tahun yang lalu, setiap menjelang bulan Maulud selalu diselenggarakan ruwatan
bumi. Di Blok Cicadas biasanya ruwatan bumi di laksankan setiap 5 tahun sekali.
Dengan dipimpin ketua kampung
atau sesepuh kampung, warga setempat berkumpul di perempatan kampung untuk
berkumpul terlebih dahulu sebelum melakukan iring-iringan mengelilingi kampung. Kegiatan ini sekaligus digunakan untuk bersilaturahmi diantara warga, karena
setelah ritual kagamaan selesai seluruh warga bergembiria ria, begjoged bersama, makan bersama di lapang sambil istirahat sejenak menghilangkan rasa lelah habis berkeliling desa, ngobrol dan bersenda gurau.
Apa saja rangkaian pelaksanaan
pertistiwa ruwatan bumi ini?
Pertama dadahut, yaitu persiapan yang dilakukan
masyarakat mulai dari pembentukan panitia, musyawarah pelaksanaaan ruwatan
bumi, pengumpulan biaya, membuat makanan, membuat pintu hek (pintu gerbang),
membuat sawen atau daun janur dari daun kawung. Kegiatan dadahut ini biasanya
dilakuan sebulan sebelum pelaksanaan.
Kedua Ngadieukeun, yaitu ritual khusus
bertempat di goah yang dilakuan ketua adat dengan menyajikan banyak sesajen.
Tujuannya meminta ijin kepada Tuhan YME supaya seluruh penduduk dan kampungnya
dijauhkan dari musibah.
Ketiga Ijab kabul motong munding, yaitu berdoa
sekaligus sambutanketua adat sebelum menyembelih kerbau.
Keempat Ngalawar,
yaitu nyuguh atau menyimpan sesaji di stiap sudut kampung. Ngalawar dimaksudkan
untuk menghormati para leluhur masyarakat di daerah itu. Ngalawar dimulai
dengan menyimpan sesaji di tengah-tengah kampung. Kemudian dilanjutkan di
keempat sudut kampung. Sesaji atau sesajen untuk ngalawar ini dibungkus dalam
ukuran kecil yang di dalamnya terdapat aneka makanan yang terbuat dari beras.
Kelima
Salawatan, yaitu mengucap puji-pujian kepada Allah SWT dan Rosulnya di
mesjid-mesjid. Sholawatan dimulai setelah maghrib sampai menjelang Isya.
Keenam
pertunjukan seni gembyung yang dilaksanakan pada malam hari.
Ketujuh Numbal,
yairtu upacara sakral dengan mengubur sesaji dan makanan yang terbuat dari
beras. Tujuan numbal adalah mangurip bumi munar leuwih, artinya hasil bumi dan
segala hal yang dilakukan penduduk kampung bisa bermanfaat. Bahan untuk numbal
antara lain kelapa hijau, seupaheun, telur, gula merah, rempah-rempah, ayam
kampung, pisang, tebu, jawer kotok. Prosesinya, setelah ritual kagamaan
dilanjutkan dengan menyembelih ayam kampung. Ayam tersebut dipotong-potong
untuk disimpan dalam lubang tertentu yang telah digali. Berikutnya adalah
menanam pohon pisang, tebu, jawer kotok dan hanjuang yang disiram air beras.
Kedelapan
Helaran, yaitu iring-iringan masyarakat dimulai dari tempat pelaksanaan ruwatan
menuju situs makam leluhur. Dalam helaran ini ikut memeriahkan seni beluk,
pembawa parukuyan, kuda kosong, pini sepuh, usungan dongdang, seni dogdog,
saung sangar, usung tumpeng, dongdang makanan, seni Rengkong dan tari-tarian
pembawa kerajinan.
Kesembilan Sawer, yaitu melantunkan syair buhun. Sawer berisi
puji-pujian terhadap sang pncipta, para leluhur dan Nyai Pohaci atau Dwi Sri.
Kesepuluh
Ijab Kobul, yaitu ritual untuk menutup pelaksanaan ruwatan bumi yang dipimpin
ketua adat. Setelah acara sacral biasanya dilanjutan hiburan wayang golek atau
kesenian lain yang bernuansa Islam.
Langganan:
Komentar (Atom)